Sejarah Desa Kandri, Desa Wisata Budaya di Semarang

Kalau mendengar Kota Semarang, kebanyakan orang langsung ingat Lawang Sewu, Kota Lama, lumpia, atau kawasan Simpang Lima.

Padahal, di sisi selatan kota ini ada satu kawasan yang punya cerita berbeda: suasana desa, tradisi Jawa, alam perbukitan, legenda wali, hingga wisata edukasi yang hidup bersama masyarakat lokal.

Tempat itu adalah Desa Kandri, atau secara administratif dikenal sebagai Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

Kandri bukan sekadar kampung yang punya objek wisata, tetapi kawasan yang berkembang menjadi desa wisata budaya dengan identitas kuat. Di sini, sejarah, alam, pertanian, seni, dan kehidupan warga saling menyatu.

Sejarah Desa Kandri menarik karena tidak hanya bicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat beradaptasi.

Dari wilayah agraris yang lekat dengan sawah dan tradisi, Kandri kemudian tumbuh menjadi desa wisata yang dikenal lewat Goa Kreo, Waduk Jatibarang, seni budaya, paket edukasi, dan peran aktif warga dalam mengelola potensi lokal.

Mengenal Desa Kandri di Kota Semarang

Desa Kandri berada di Kecamatan Gunungpati, salah satu wilayah Kota Semarang yang masih memiliki nuansa hijau, perbukitan, dan kehidupan masyarakat yang lebih tenang dibanding pusat kota.

Dalam promosi wisata, kawasan ini populer dengan sebutan Desa Wisata Kandri atau Dewi Kandri. Secara resmi, Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat Desa Wisata Kandri berada di Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

Desa wisata ini dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Semarang Nomor 556/407 tanggal 21 Desember 2012, dengan daya tarik utama berbasis alam dan budaya.

Hal menarik dari Kandri adalah posisinya yang berada tidak terlalu jauh dari pusat Kota Semarang, tetapi tetap menawarkan suasana pedesaan. Jadi, wisatawan bisa merasakan pengalaman yang berbeda tanpa harus pergi terlalu jauh dari kota.

Di satu sisi, Kandri memiliki daya tarik alam seperti Goa Kreo dan Waduk Jatibarang. Di sisi lain, desa ini juga menjaga tradisi, kesenian, kuliner, edukasi pertanian, dan kehidupan sosial masyarakat yang masih terasa guyub.

Sejarah Desa Kandri dan Akar Kehidupan Agraris

Sejarah Desa Kandri tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat agraris. Menurut situs resmi Desa Kandri, wilayah ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan kehidupan pertanian, nilai tradisional Jawa, dan perkembangan spiritual di Jawa Tengah.

Cerita warga juga menyebutkan bahwa Kandri sudah ada sejak masa kolonial, dengan penduduk yang banyak bekerja sebagai petani dan pengrajin.

Kehidupan agraris inilah yang membentuk karakter masyarakat Kandri. Sawah, kebun, ternak, dan aktivitas gotong royong menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Dari sini, lahir pula kebiasaan sosial yang kuat, seperti saling membantu saat hajatan, menjaga lingkungan, dan merawat tradisi bersama.

Ketika Kandri mulai dikembangkan sebagai desa wisata, akar agraris ini tidak ditinggalkan. Justru, kegiatan pertanian dijadikan salah satu daya tarik wisata edukasi.

Contohnya, wisatawan atau pelajar dapat mengikuti paket edukasi pertanian, belajar menanam padi, mengenal sawah, dan memahami proses pangan dari dekat.

Jadesta juga mencatat adanya paket edukasi pertanian bernama “Nyawah” yang memperkenalkan siswa pada area persawahan dan praktik menanam padi. Paket ini muncul karena persawahan masih banyak ditemukan di Desa Wisata Kandri.

Legenda Goa Kreo dan Jejak Sunan Kalijaga

Salah satu bagian paling kuat dalam sejarah Desa Kandri adalah legenda Goa Kreo. Goa ini dipercaya berkaitan dengan perjalanan Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang dikenal sangat dekat dengan pendekatan budaya dalam menyebarkan Islam di Jawa.

Menurut cerita yang berkembang, Goa Kreo menjadi tempat persinggahan atau pertapaan Sunan Kalijaga.

Situs resmi Desa Kandri menyebut Goa Kreo sebagai titik penting dalam sejarah Kandri karena dipercaya sebagai tempat persinggahan Sunan Kalijaga, serta dijaga oleh sekawanan kera yang hingga kini menjadi daya tarik wisata.

Versi legenda yang banyak dikenal menceritakan bahwa Sunan Kalijaga membutuhkan kayu jati untuk pembangunan Masjid Agung Demak. Dalam perjalanan, kayu tersebut mengalami hambatan, lalu datanglah kera-kera yang membantu.

Setelah itu, para kera diperintahkan untuk menjaga kawasan tersebut. Dari cerita inilah nama Goa Kreo sering dikaitkan dengan makna menjaga atau memelihara.

Bagi wisatawan, Goa Kreo bukan hanya objek wisata alam. Tempat ini punya nilai spiritual, sejarah, dan budaya.

Keberadaan monyet ekor panjang di sekitar goa juga membuat pengalaman berkunjung terasa unik, meski pengunjung tetap perlu berhati-hati dan menjaga barang bawaan.

Waduk Jatibarang dan Perubahan Wajah Kandri

Perkembangan Desa Kandri sebagai destinasi wisata semakin kuat setelah keberadaan Waduk Jatibarang. Waduk ini menjadi latar alam yang membuat kawasan Goa Kreo semakin menarik karena goa tampak berada di area seperti pulau kecil yang dikelilingi air.

Jadesta mencatat bahwa Goa Kreo berada di sebuah pulau kecil di tengah Waduk Jatibarang dan menjadi habitat ratusan monyet ekor panjang yang jinak.

Pemandangan inilah yang kemudian membuat Kandri memiliki daya tarik visual yang kuat, terutama untuk wisata keluarga, fotografi, edukasi, dan wisata alam ringan.

Waduk Jatibarang sendiri tidak hanya berfungsi sebagai tempat wisata.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjelaskan bahwa waduk ini dibuat sebagai bendungan pengendali banjir Kota Semarang, mendukung pembangkit listrik mikro hidro, dan menjaga fungsi konservasi daerah aliran sungai.

Waduk ini resmi beroperasi pada 2015 dan kini menjadi salah satu destinasi wisata di Semarang.

Perubahan ini membawa dampak besar bagi Kandri. Warga yang sebelumnya lebih banyak bergantung pada pertanian mulai melihat peluang baru dari sektor pariwisata.

Ada yang menjadi pemandu wisata, pengelola homestay, pelaku UMKM, penyedia kuliner, pengelola paket wisata, hingga pelaku seni pertunjukan.

Kandri sebagai Desa Wisata Budaya

Kekuatan Desa Wisata Kandri bukan hanya pada Goa Kreo dan Waduk Jatibarang. Kandri juga dikenal sebagai desa wisata budaya karena masih menjaga tradisi, kesenian, dan kegiatan ritual yang menjadi identitas masyarakat.

Dalam kajian tentang peran masyarakat Kandri, disebutkan bahwa seni memiliki fungsi penting dalam wisata.

Seni digunakan sebagai bagian dari paket wisata budaya dan edukasi, termasuk untuk memperkenalkan wisatawan pada budaya lokal. Kesenian seperti tari, kerajinan tangan, kuliner, dan atraksi budaya menjadi bagian dari pengembangan spot wisata di Kandri.

Beberapa tradisi yang sering dikaitkan dengan Kandri antara lain Nyadran Kali dan Sesaji Rewanda.

Kajian seni Kandri mencatat bahwa Tari Matirta Suci Dewi Kandri diciptakan untuk melengkapi ritual bersih desa bernama Nyadran Kali, sedangkan Tari Sesaji Rewanda disajikan dalam upacara ritual Sesaji Rewanda di Goa Kreo.

Kegiatan seperti ini dilaksanakan setahun sekali dan kemudian dikemas agar bisa menjadi bagian dari daya tarik wisata.

Di sinilah terlihat menariknya Kandri. Tradisi tidak hanya disimpan sebagai cerita lama, tetapi juga dihidupkan dalam bentuk pertunjukan, festival, edukasi, dan pengalaman wisata.

Dengan begitu, generasi muda tetap mengenal budaya lokal, sementara wisatawan mendapatkan pengalaman yang lebih bermakna.

Peran Warga dalam Mengembangkan Desa Wisata Kandri

Desa wisata yang kuat biasanya tidak hanya bergantung pada objek wisata, tetapi juga pada masyarakatnya. Hal ini juga terlihat di Kandri. Warga bukan sekadar penonton, melainkan ikut menjadi pelaku utama dalam pengelolaan wisata.

Penelitian tentang kerja sama Pemerintah Kota Semarang dan Pokdarwis Pandanaran menjelaskan bahwa program pengembangan Desa Wisata Kandri bertujuan memberi pembinaan dan pelatihan kepada masyarakat yang sebelumnya banyak bermata pencaharian sebagai petani agar mampu menjadi pelaku usaha pariwisata.

Pelatihan yang dilakukan mencakup pemandu wisata, penguatan Pokdarwis, pengemasan produk wisata, hingga pembibitan ikan.

Peran Pokdarwis Pandanaran menjadi penting karena kelompok ini menjadi penggerak masyarakat. Mereka membantu menciptakan pemahaman kepariwisataan, meningkatkan partisipasi warga, dan mendukung pembangunan wisata di wilayah Kandri.

Hasilnya, warga mulai memiliki ruang ekonomi baru. Ada peluang dari jasa pemandu, homestay, kuliner, paket edukasi, seni pertunjukan, produk lokal, hingga aktivitas wisata air dan alam.

Dalam penelitian yang sama, pengembangan desa wisata disebut memberi dampak pada peningkatan kapasitas SDM, terbentuknya paket wisata, peningkatan kunjungan, terbukanya lapangan kerja, dan tumbuhnya kewirausahaan masyarakat.

Daya Tarik Wisata Kandri untuk Pengunjung

Bagi wisatawan, Kandri cocok dikunjungi karena menawarkan pengalaman yang cukup lengkap. Ada alam, cerita sejarah, budaya, edukasi, sampai aktivitas santai bersama keluarga.

Goa Kreo menjadi ikon utama. Pengunjung bisa menikmati suasana goa, melihat monyet ekor panjang, menyusuri area sekitar, dan menikmati pemandangan Waduk Jatibarang. Dari area ini, wisatawan juga bisa berfoto dengan latar jembatan, air waduk, dan perbukitan.

Selain itu, ada aktivitas wisata air di sekitar Waduk Jatibarang, seperti naik perahu wisata, memancing, atau menikmati panorama dari tepi waduk.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menyebut adanya aktivitas seperti speedboat, perahu wisata, memancing, dan river tubing di Desa Wisata Kandri.

Untuk wisata edukasi, Kandri punya paket pertanian, budidaya singkong, kerajinan tangan, gamelan, karawitan, dan paket etnik. Paket seperti ini cocok untuk sekolah, komunitas, keluarga, atau wisatawan yang ingin merasakan pengalaman lokal, bukan hanya datang untuk foto lalu pulang.

Mengapa Sejarah Desa Kandri Penting Dipahami?

Mempelajari sejarah Desa Kandri membuat kita melihat bahwa desa wisata tidak lahir secara instan. Ada perjalanan panjang dari kehidupan agraris, cerita rakyat, nilai spiritual, pembangunan infrastruktur, hingga kerja sama antara warga, Pokdarwis, dan pemerintah.

Kandri juga menunjukkan bahwa budaya lokal bisa menjadi kekuatan ekonomi jika dikelola dengan baik. Tradisi seperti Nyadran Kali dan Sesaji Rewanda bukan sekadar acara tahunan, tetapi bagian dari identitas yang membuat Kandri berbeda dari destinasi wisata lain.

Selain itu, Kandri memberi contoh bahwa desa atau kelurahan di wilayah kota tetap bisa mempertahankan suasana lokal.

Di tengah perkembangan Semarang sebagai kota besar, Kandri menjadi ruang yang memperlihatkan sisi lain kota: lebih hijau, lebih pelan, lebih dekat dengan masyarakat, dan lebih kaya cerita.

Sejarah Desa Kandri adalah cerita tentang perubahan yang tetap berpijak pada akar budaya.

Dari wilayah agraris yang lekat dengan sawah, tradisi, dan kehidupan warga, Kandri berkembang menjadi desa wisata budaya yang dikenal melalui Goa Kreo, Waduk Jatibarang, seni tradisional, serta wisata edukasi.

Kekuatan Kandri terletak pada perpaduan alam, legenda, spiritualitas, dan partisipasi masyarakat. Inilah yang membuatnya layak masuk daftar destinasi saat berkunjung ke Semarang.

Jika Anda ingin menikmati Semarang dari sisi yang lebih tenang dan autentik, cobalah datang ke Desa Wisata Kandri. Jangan hanya berfoto, tetapi luangkan waktu untuk mendengar cerita, menikmati budaya, dan mendukung produk lokal warga.

FAQ

1. Di mana lokasi Desa Kandri?

Desa Kandri atau Kelurahan Kandri berada di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah. Kawasan ini dikenal sebagai Desa Wisata Kandri.

2. Apa daya tarik utama Desa Wisata Kandri?

Daya tarik utamanya adalah Goa Kreo, Waduk Jatibarang, legenda Sunan Kalijaga, monyet ekor panjang, wisata edukasi pertanian, seni budaya, dan tradisi lokal.

3. Apa hubungan Goa Kreo dengan sejarah Desa Kandri?

Goa Kreo dipercaya berkaitan dengan perjalanan Sunan Kalijaga. Legenda ini menjadi bagian penting dari identitas budaya dan sejarah Desa Kandri.

4. Kapan Desa Wisata Kandri dibentuk?

Menurut Jadesta Kementerian Pariwisata, Desa Wisata Kandri dibentuk berdasarkan SK Wali Kota Semarang Nomor 556/407 tanggal 21 Desember 2012.

5. Apakah Kandri cocok untuk wisata keluarga?

Ya. Kandri cocok untuk keluarga karena memiliki wisata alam, edukasi pertanian, aktivitas budaya, kuliner lokal, dan suasana desa yang relatif nyaman untuk belajar sambil berlibur.