Asal-Usul Nama Kandri dan Cerita Masyarakatnya

Setiap desa biasanya punya cerita yang tidak hanya tersimpan di buku, tetapi juga hidup dari mulut ke mulut. Begitu juga dengan Kandri, sebuah kelurahan di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, yang kini dikenal sebagai salah satu desa wisata budaya.

Asal-usul nama Kandri bukan sekadar soal penamaan wilayah. Di balik nama itu, ada kisah pohon kandri, tokoh pengembara, sumber mata air, tradisi warga, hingga legenda Goa Kreo yang terus diwariskan oleh masyarakat.

Menariknya, cerita masyarakat Kandri tidak berhenti sebagai kisah masa lalu. Sampai hari ini, berbagai tradisi seperti Nyadran Kali, Sesaji Rewanda, dan kegiatan budaya masih menjadi bagian penting dari identitas warga.

Karena itulah, membahas asal-usul nama Kandri berarti juga mengenal cara masyarakatnya menjaga hubungan dengan alam, leluhur, dan budaya lokal.

Mengenal Kandri, Desa Wisata Budaya di Semarang

Kandri berada di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Meski secara administratif berstatus kelurahan, kawasan ini lebih populer disebut sebagai Desa Wisata Kandri atau Dewi Kandri.

Kementerian Pariwisata melalui Jadesta mencatat Desa Wisata Kandri dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Semarang Nomor 556/407 tanggal 21 Desember 2012.

Desa wisata ini memiliki daya tarik berbasis alam dan budaya, dengan Goa Kreo sebagai salah satu ikon utamanya.

Suasana Kandri berbeda dari pusat Kota Semarang yang padat dan sibuk. Di sini, wisatawan masih bisa menemukan nuansa desa, persawahan, sendang, kesenian tradisional, kuliner lokal, dan cerita rakyat yang masih melekat dalam kehidupan warga.

Asal-Usul Nama Kandri Menurut Cerita Rakyat

Cerita paling populer menyebut bahwa nama Kandri berasal dari pohon kandri. Dalam salah satu kajian tentang Desa Wisata Kandri, disebutkan bahwa sejarah berdirinya Kandri berkaitan dengan Desa Selo, Purwodadi, Kabupaten Grobogan.

Menurut cerita tersebut, ada dua santri kakak beradik bernama Sariyah Alhafidloh dan Sariani yang mengembara sampai ke wilayah Semarang.

Ketika tiba di suatu tempat, mereka melihat banyak pohon kandri. Dari situlah wilayah tersebut kemudian dinamakan Desa Kandri. Versi lain menyebut nama Kandri berkaitan dengan tokoh Ki Ageng Selo.

Dalam kajian tradisi Nyadran Kali, Ki Ageng Selo dikisahkan mengutus dua kakak beradik, Nyai Sekarsari atau Sariyah dan Nyai Sariyani, untuk bersilaturahmi ke wilayah tempat Mbah Joyo Kusumo tinggal. Sebagai tanda, mereka membawa bibit pohon kandri atau Bridelia monoica.

Karena cerita ini berasal dari tradisi lisan, wajar jika ada beberapa versi nama tokoh atau detail peristiwa. Namun, benang merahnya tetap sama: nama Kandri berhubungan erat dengan pohon kandri, tokoh pengembara, dan proses awal terbentuknya permukiman.

Pohon Kandri sebagai Penanda Wilayah

Dalam budaya masyarakat tradisional, pohon sering menjadi penanda penting. Pohon bisa menjadi batas wilayah, tempat berteduh, titik berkumpul, bahkan simbol kehidupan.

Begitu juga dengan pohon kandri dalam cerita masyarakat Kandri. Pohon ini tidak hanya dipahami sebagai tanaman biasa, tetapi juga sebagai tanda awal keberadaan kampung.

Dalam salah satu naskah tentang promosi pariwisata Kandri, cerita asal-usul desa menyebut dua santri melihat banyak pepohonan yang sama seperti pohon kandri yang mereka bawa, lalu wilayah itu diberi nama Desa Kandri.

Cerita ini memberi gambaran bahwa penamaan desa zaman dulu sering lahir dari hal-hal yang dekat dengan alam. Nama kampung bisa berasal dari pohon, sungai, bukit, hewan, tokoh, atau kejadian tertentu yang dianggap penting oleh masyarakat.

Bagi warga Kandri, pohon kandri menjadi semacam simbol asal mula. Ia menghubungkan cerita leluhur, alam sekitar, dan identitas desa yang masih diingat sampai sekarang.

Tokoh Sariyah, Sariani, dan Kisah Mbah Cangkul

Dalam cerita masyarakat Kandri, nama Sariyah dan Sariani cukup sering muncul. Mereka digambarkan sebagai tokoh pengembara yang berperan dalam asal-usul desa.

Salah satu sumber menyebut Sariyah sebagai kakak dan Sariani sebagai adik. Setelah mereka sampai di wilayah yang banyak ditumbuhi pohon kandri, Sariyah membuka hutan dan membuat tempat tinggal.

Pohon kandri yang ditanam kemudian tumbuh besar, hingga wilayah itu dikenal sebagai Desa Kandri. Cerita kemudian berlanjut pada sosok yang dikenal sebagai Mbah Cangkul atau Mbah Pacul.

Nama ini muncul karena tokoh tersebut disebut sering membawa cangkul dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sumber lain, Sariani disebut menetap di wilayah lain dan dikenal sebagai Mbah Pacul, lalu dimakamkan di Talun Kacang RW 3, sedangkan Mbah Nyai Sariyah dimakamkan di RW 1.

Bagi pembaca modern, cerita seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun bagi masyarakat lokal, kisah tokoh pendiri desa punya nilai penting.

Dari cerita itu, warga bisa mengenal asal-usul tempat tinggal, menghormati leluhur, dan memahami mengapa beberapa lokasi dianggap sakral atau perlu dijaga.

Sendang Gede dan Hubungan Kandri dengan Air

Selain pohon kandri, cerita masyarakat Kandri juga sangat dekat dengan sumber air. Salah satu tempat penting yang sering disebut adalah Sendang Gede.

Dalam salah satu versi cerita, setelah bibit pohon kandri ditanam, muncullah sumber air yang mengalir deras. Warga khawatir air itu akan menenggelamkan desa, lalu meminta bantuan sesepuh bernama Mbah Japar.

Sumber air tersebut kemudian ditutup dengan gong, kepala kerbau, dan jadah atau makanan tradisional. Setelah itu, aliran air tidak sederas sebelumnya, lalu dibangunlah sendang untuk menampung air tersebut. Sendang itu dikenal sebagai Sendang Gede.

Sumber lain menjelaskan bahwa Sendang Gede masih dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, dan pengairan pertanian. Dari keberadaan sendang inilah muncul tradisi Nyadran Kali atau resik sendang yang masih dijaga oleh warga.

Cerita ini menarik karena menunjukkan hubungan kuat antara masyarakat Kandri dan air. Air tidak hanya dilihat sebagai kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai berkah yang harus dihormati dan dirawat.

Tradisi Nyadran Kali sebagai Ingatan Kolektif Warga

Nyadran Kali adalah salah satu tradisi penting dalam cerita masyarakat Kandri. Tradisi ini berkaitan dengan penghormatan terhadap sumber air, leluhur, dan rasa syukur atas kehidupan.

Kajian tentang Nyadran Kali menyebut tradisi ini sebagai warisan budaya yang masih dilestarikan masyarakat Kandri.

Tradisi ini biasanya dilakukan pada bulan Jumadil Awal dalam kalender Jawa dan menjadi bentuk syukuran serta penghormatan kepada leluhur dan penjaga sungai yang dianggap sebagai sumber kehidupan.

Dalam pelaksanaannya, warga biasanya berkumpul, membersihkan area sungai atau sendang, menyiapkan sesaji, melakukan arak-arakan, dan makan bersama. Aktivitas ini bukan hanya ritual, tetapi juga momen sosial yang memperkuat hubungan antarwarga.

Ada nilai yang menarik dari tradisi ini: yang muda ikut bergerak, yang tua memberi restu. Artinya, budaya tidak hanya dijaga oleh generasi lama, tetapi juga diteruskan oleh anak-anak muda agar tidak hilang.

Goa Kreo dan Cerita Masyarakat Kandri

Kalau bicara Kandri, sulit rasanya melewatkan Goa Kreo. Tempat ini menjadi salah satu ikon wisata sekaligus ruang cerita yang sangat lekat dengan masyarakat.

Goa Kreo dikenal melalui legenda Sunan Kalijaga. Salah satu versi cerita menyebut Sunan Kalijaga singgah di gua tersebut ketika mencari kayu jati untuk pembangunan Masjid Demak.

Dalam perjalanan itu, muncul kisah tentang kera-kera yang kemudian dipercaya menjaga kawasan Goa Kreo.

Jadesta juga mencatat Goa Kreo berada di sebuah pulau kecil di tengah Waduk Jatibarang dan dihuni ratusan monyet ekor panjang yang relatif jinak. Keberadaan monyet inilah yang membuat cerita Goa Kreo semakin kuat dalam ingatan wisatawan maupun warga.

Bagi masyarakat Kandri, Goa Kreo bukan sekadar objek wisata. Tempat ini menjadi bagian dari identitas budaya, legenda lokal, dan kegiatan tradisi seperti Sesaji Rewanda.

Cerita Masyarakat Kandri dalam Kehidupan Sehari-hari

Cerita masyarakat Kandri tidak hanya muncul saat acara adat. Nilai-nilainya juga terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Kehidupan warga Kandri banyak dipengaruhi oleh budaya agraris. Sebelum dikenal sebagai desa wisata, banyak masyarakat yang bekerja sebagai petani, buruh tani, pengrajin, dan pelaku usaha kecil.

Ketika pariwisata mulai berkembang, sebagian warga ikut beradaptasi dengan menjadi pemandu wisata, pengelola paket edukasi, pelaku UMKM, hingga seniman lokal.

Desa Wisata Kandri juga dikenal menjaga seni dan budaya lokal. Ada kegiatan edukasi pertanian, pengenalan kesenian, karawitan, tari, kuliner tradisional, hingga paket wisata berbasis pengalaman desa.

Di sinilah cerita asal-usul menjadi penting. Ia bukan hanya bahan dongeng, tetapi menjadi modal budaya. Cerita tentang pohon kandri, Sendang Gede, Mbah Cangkul, dan Goa Kreo membuat wisata Kandri terasa lebih hidup.

Mengapa Asal-Usul Nama Kandri Penting untuk Dikenal?

Asal-usul nama Kandri penting karena membantu kita memahami identitas sebuah tempat. Nama bukan hanya label di peta, tetapi pintu masuk untuk mengenal sejarah, budaya, dan karakter masyarakatnya.

Dari cerita Kandri, kita belajar bahwa masyarakat Jawa punya cara sendiri dalam membaca alam. Pohon, mata air, cangkul, sendang, dan gua bisa menjadi simbol penting yang menyimpan makna.

Cerita ini juga mengajarkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu kaku. Kandri berhasil mengemas tradisi menjadi bagian dari desa wisata, tanpa sepenuhnya melepaskan nilai spiritual dan sosial yang diwariskan leluhur.

Bagi wisatawan, memahami cerita ini membuat kunjungan ke Kandri terasa lebih bermakna. Kita tidak hanya datang untuk melihat Goa Kreo atau Waduk Jatibarang, tetapi juga mengenal kisah panjang masyarakat yang merawat tempat itu.

Asal-usul nama Kandri berkaitan erat dengan pohon kandri, tokoh Sariyah dan Sariani, serta cerita masyarakat tentang pembukaan wilayah dan munculnya sumber air.

Meski memiliki beberapa versi, cerita-cerita tersebut menunjukkan betapa kuatnya hubungan warga Kandri dengan alam, leluhur, dan tradisi.

Kandri bukan hanya desa wisata yang menawarkan pemandangan dan objek menarik. Lebih dari itu, Kandri adalah ruang budaya yang menyimpan kisah, nilai gotong royong, rasa syukur, dan kearifan lokal.

Jika berkunjung ke Semarang, sempatkan datang ke Desa Wisata Kandri. Nikmati alamnya, dengarkan ceritanya, hormati tradisinya, dan dukung produk lokal masyarakatnya.

FAQ

1. Apa arti nama Kandri?

Nama Kandri dipercaya berasal dari pohon kandri yang banyak ditemukan di wilayah tersebut dalam cerita rakyat masyarakat setempat.

2. Siapa tokoh penting dalam asal-usul Desa Kandri?

Tokoh yang sering disebut adalah Sariyah dan Sariani, dua pengembara yang dikaitkan dengan awal penamaan Kandri. Dalam versi lain, cerita ini juga berkaitan dengan Ki Ageng Selo.

3. Apa hubungan Kandri dengan Sendang Gede?

Sendang Gede adalah sumber air penting di Kandri. Cerita masyarakat menyebut sendang ini berkaitan dengan asal-usul desa dan tradisi Nyadran Kali.

4. Apa tradisi yang masih dijaga masyarakat Kandri?

Beberapa tradisi yang dikenal antara lain Nyadran Kali, Nyadran Kubur, Sesaji Rewanda, dan Mahakarya Legenda Goa Kreo.

5. Apakah Kandri masih cocok dikunjungi sebagai desa wisata?

Ya. Kandri cocok dikunjungi untuk wisata budaya, edukasi pertanian, kuliner lokal, Goa Kreo, Waduk Jatibarang, dan pengalaman suasana desa di Kota Semarang.